Mesin Bor MRT Fase 2A Tiba di Jakarta, Ini Spesifikasinya

www.kompas.com, Selasa, 23 November 2021

Mesin bor terowongan atau tunnel boring machine (TBM) pertama atau TBM 1 untuk MRT fase 2A telah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta,  Minggu, 21 November 2021. Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta (Perseroda) Rendi Alhial mengatakan, TBM 1 tersebut telah selesai difabrikasi di salah satu pabrik milik perusahaan multinasional asal Jepang yaitu Kawasaki Heavy Industries, Ltd di Hangzhou dan Wuhu, Republik Rakyat China.

“Pemilihan mesin bor terowongan juga telah sesuai dengan pedoman Japan International Cooperation Agency (JICA) guideline dan TBM dibuat dengan kualitas dan pengawasan produksi sesuai standar Jepang,” kata Rendi dalam keterangan yang dikutip Kompas.com, Selasa (23/11/2021).

Seperti diketahui, proyek pembangunan MRT Jakarta fase 2A CP201 dibiayai oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, serta dana pinjaman Pemerintah Jepang melalui Japan International JICA. Selama pekerjaan pembangunan berlangsung, MRT Jakarta melibatkan konsultan, kontraktor, dan produk-produk dari perusahaan Jepang. “Salah satunya termasuk mesin bor terowongan atau TBM 1 yang akan digunakan dalam proyek MRT fase 2A CP201,” imbuh Rendi.   TBM 1 ini tiba setelah menempuh perjalanan laut kurang lebih selama tiga minggu dari Republik Rakyat Tiongkok dan datang dalam 48 bagian yang nantinya akan dirakit di lokasi pengeboran.

Selanjutnya, akan dilakukan persiapan peluncuran (launching) dan penggalian terowongan yang rencananya akan dimulai pada Januari 2022. TBM 1 akan diangkut ke Stasiun Bundaran HI pada akhir November 2021 untuk membuat terowongan dari Stasiun Bundaran HI menuju Stasiun Harmoni. TBM 1 menggunakan tipe earth pressure balance dengan diameter mesin (machine diameter) 6.800 milimeter dengan shield length 8.500 milimeter dan segment diameter 6.650 milimeter (outer) dan 6.050 milimeter (inner). Penggunaan tipe tersebut berdasarkan hasil kajian terhadap kondisi tanah di sepanjang jalur fase 2A yang didominasi oleh alluvial clay dengan beberapa lapisan diluvial clay dan diluvial sand. Pembangunan terowongan MRT Jakarta fase 2A nantinya akan menggunakan dua unit TBM yang didatangkan secara bertahap. TBM 1 akan memulai pengeboran dari Stasiun Bundaran HI menuju Stasiun Thamrin lalu melakukan U-turn di dalam stasiun untuk melakukan pengeboran dari Stasiun Thamrin menuju Stasiun Bundaran HI.

Setelah itu, TBM 1 tersebut akan diangkut ke Stasiun Monas dan akan melakukan pengeboran ke arah Stasiun Harmoni. Sedangkan untuk TBM 2 akan mulai melakukan pengeboran dari Stasiun Monas menuju Stasiun Thamrin lalu melakukan U-turn untuk pengeboran dari Stasiun Thamrin menuju Stasiun Monas dan melanjutkan pengeboran dari Stasiun Monas ke arah Stasiun Harmoni. Selain penggalian terowongan, secara bersamaan akan dilakukan juga pemasangan ring segmen dengan produktifitas rata-rata sekitar lima ring per hari. Dalam satu ring terowongan, tersusun dari enam segmen dengan lebar 1.5 meter, sehingga TBM akan melakukan pengeboran sejauh 7.5 meter per hari. Segmen beton terowongan (tunnel segment lining) tersebut diproduksi di pabrik WIKA KOBE, Karawang. Tanah hasil penggalian akan dicampur dengan polymer dan dipompa menggunakan soil pump dari chamber TBM ke muck pit di permukaan tanah (ground level) lalu diangkut dengan truk ke tempat pembuangan tanah yang telah ditentukan. Pembuangan tanah hasil galian akan dimanfaatkan untuk lahan pemakaman yang berlokasi di TPU Rorotan, Jakarta Utara dan TPU Tegal Alur, Jakarta Barat. Pekerjaan pengeboran akan membutuhkan waktu selamakurang lebih 17 bulan untuk kedua TBM tersebut.